Kayong Utara – Eni Andriani menjadi satu-satunya perempuan yang mengikuti pelatihan satpam dari 50 pendaftar keseluruhan.

Usai lulus dari SMK Perhotelan, Eni memiliki sertifikat dan mengenyam pengalaman 6 bulan bekerja magang di bidang perhotelan. Dia sebenarnya bisa bekerja di hotel, tapi dia memilih jalan yang berbeda.

Eni mengaku sejak masih siswa di SMK Perhotelan jurusan front office ini, sudah memiliki keinginan menjadi satpam. Alasannya sederhana dan mulia, ingin memberikan rasa aman bagi semua orang.

“Berawal dari scrolling TikTok, lihat video pelatihan satpam, jadi ingin juga,” ujar Eni.

Penghobi sepak bola sejak sekolah dan pernah ikut turnamen futsal perempuan tingkat desa hingga kabupaten, seolah menjadi gambaran bagi karakter Eni di dunia kerja.

“Memilih menjadi security karena ingin pekerjaan yang aktif dan banyak aktivitas fisik,” ungkap Eni.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara yang lahir dan besar di Sukadana, Eni merasa bersyukur atas terbukanya peluang kerja yang semakin luas bagi pemuda dan pemudi Kayong Utara.

Salah satu pendorong utama adalah hadirnya Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), yang merupakan satu-satunya Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kabupaten Kayong Utara. Keberadaan investasi ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga membuka lapangan kerja baru. Saat ini, sebagian besar tenaga kerja di KIPP berasal dari masyarakat lokal Kayong Utara, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga setempat.

Percaya Diri dan Adaptif

Eni sudah 8 bulan bekerja di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP). Dalam menjalankan tugasnya, Eni mengaku percaya diri dan tidak pernah merasa minder. itu berusaha menyesuaikan diri dalam lingkungan kerja yang didominasi laki-laki.

Latihan fisik di masa pelatihan dan pengalaman bekerja terdahulu, disebut Eni menjadi dasar kepercayaan dirinya. Pernah diremehkan, Namun Eni tidak khawatir dan yakin layak bekerja tanpa terganggu dengan gendernya.

“Bahkan saya merasa bersyukur bisa sampai di tahap ini, bisa mengamankan banyak orang, bisa ketemu banyak orang. Jadi tidak merasa terintimidasi walaupun berhadapan dengan laki-laki,” kata Eni.

Perlu ditekankan bahwa di Pulau Penebang, kini terdapat 80 satpam laki-laki dan hanya 4 satpam perempuan. Salah satunya Eni ini.

Puji syukur Eni cukup beralasan, karena pada dasarnya seperti yang pernah diungkapnya sebagai pribadi yang aktif dan dinamis.

“Memilih menjadi security karena ingin pekerjaan yang aktif dan banyak aktivitas fisik. Karena memang kepribadian saya suka pekerjaan seperti ini yang ketemu banyak orang, berolahraga karena saya memang suka main bola juga. Bahkan dulu pernah bergabung dalam lomba antar kota,” jelas Eni.

Berbincang dengan Eni, terlihat dia seorang pribadi yang ekstrovert. Kesan pertama bertemu, terlihat Eni orang yang komunikatif dan ringan tangan. Karakter diri yang berpadu dengan jalur pendidikannya sebagai siswa dari sekolah menengah kejuruan perhotelan. Melayani banyak orang bukan hal aneh ungkap Eni.

“Senang karena pekerjaannya melibatkan banyak interaksi dengan orang. Bersyukur karena bisa bergabung saat perusahaan masih tahap awal. Merasa mendapat kesempatan besar sebelum perusahaan berkembang lebih besar. Sebagai anak bungsu, jadi bisa mandiri dan tidak manja lagi,” ungkap Eni.

Rutinitas dan Harapan

Sebagai seorang Perempuan dan satpam, Eni memiliki tantangan tersendiri. Dia menjalani kewajiban rutin harian yang sama dengan satpam laki-laki, tapi Eni diberi tambahan ujian. Misal, saat sedang bertugas, tak jarang ada oknum yang memandang sebelah mata. Tapi Eni tetap tegak lurus dengan profesionalismenya.

“Menegur dengan tegas dan diingatkan terkait BAP. (Pernah enggak diremehkan?) Pernah, tapi bersikap biasa aja. Tunjukin aja kalau aku layak,” ucap Eni.

Keprofesionalan Eni dalam menjalani pekerjaannya patut diacungi jempol. Terlebih kedua orang tuanya ikut mendukung segala keputusan yang diambil olehnya.

Eni tetap punya cita-cita dan harapan. Dengan menjadi satpam, Eni mendapat gaji, dan gaji itu dipergunakannya untuk membiayai perkuliahannya di Universitas Terbuka (UT) jurusan Manajemen (Strata-1).

Eni bercita-cita suatu hari nanti menjadi sarjana manajemen, sebagai modal untuk meraih peluang kerja di lingkungan profesional yang berbeda. Harapan Eni itu terinspirasi oleh pegawai perempuan administrasi HRD di tempat kerjanya, yang mendorongnya terus berkembang dan tidak berhenti di posisi sekarang.

“Orang tua menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada saya. Prinsip keluarga selama mampu dan sanggup, silakan dijalani. Ingin menyelesaikan kuliah S1 Manajemen. Bercita-cita bekerja di kantor, khususnya menjadi admin,” ucap Eni.

“Ada admin HR perempuan yang menjadi motivasi biar jadi kayak mereka,” tukas Eni.

Eni menegaskan sebagai seorang perempuan harus dapat membuktikan diri, bahwa tidak ada profesi yang tidak dapat dijalani oleh kelompoknya. Terpenting percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. Perempuan harus tetap bersyukur dengan kemampuan yang dimiliki.

“Bahkan bisa jadi kebanggaan diri sendiri untuk menjadi orang mandiri. Bersyukur atas kesempatan yang ada. Berharap lebih banyak perempuan bisa bergabung sebagai security,” tegas Eni.

Pembuktian Eni, menunjukan keterbatasan bukan batasan dalam mengejar mimpi dan profesi. Harus diakui tidak ada gading yang tak retak, namun kehidupan terus bergerak dengan dibarengi ikhtiar dan tekad.