KAYONG INFORMASI – Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menitipkan harapan besar kepada para lulusan perguruan tinggi untuk menjadi motor penggerak peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Bumi Khatulistiwa. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Wisuda Sarjana Universitas OSO ke-2 yang digelar di Pontianak Convention Center (PCC), pada Kamis (22/01/2026).
Acara tersebut berlangsung khidmat dan turut dihadiri langsung oleh Ketua Pembina Yayasan Pendidikan OSO, Dr. (H.C.) Oesman Sapta Odang, didampingi istri beserta jajaran manajemen yayasan.
Dalam sambutannya di hadapan para wisudawan, Gubernur Ria Norsan menekankan bahwa gelar akademik bukan sekadar prestise, melainkan amanah besar yang menuntut tanggung jawab moral kepada masyarakat.
“Sebagai sarjana, Saudara dituntut untuk berdiri lebih mandiri, mengaktualisasikan ilmu, serta berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat,” kata Norsan.
Momen wisuda ini diharapkan menjadi titik awal bagi para lulusan untuk membangun karakter kepemimpinan dan semangat pengabdian yang kuat demi kemajuan daerah.
Gubernur juga memaparkan kondisi objektif pembangunan manusia di wilayahnya. Meski terus menunjukkan tren positif, IPM Kalimantan Barat masih memerlukan perhatian serius agar bisa bersaing dengan provinsi lain di pulau Kalimantan.
“Oleh karena itu, dibutuhkan kerja bersama dan sinergi semua pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia,” tegas Gubernur Norsan.
Rektor Universitas OSO, Yarlina Yacoub, dalam laporannya menyampaikan bahwa momen ini merupakan tonggak sejarah penting bagi kampus yang dipimpinnya. Pada wisuda kali ini, Universitas OSO meluluskan 46 wisudawan/wisudawati yang berasal dari angkatan pertama dan kedua.
Sejak berdiri pada tahun 2020 dengan tiga program studi awal, Universitas OSO terus bertransformasi dan akan genap memasuki usia ke-6 pada 25 Januari 2026 mendatang.
“Meskipun Universitas OSO masih terbilang muda, banyak mahasiswa kami yang telah menorehkan prestasi, baik akademik maupun non-akademik, di tingkat lokal hingga internasional,” ungkap Yarlina dengan bangga.
Dalam kesempatan tersebut, Oesman Sapta Odang memberikan refleksi mendalam mengenai pentingnya pendidikan formal bagi generasi muda. Ia mengakui adanya evolusi dalam pandangannya terkait hubungan antara pendidikan dan pengalaman lapangan.
“Dulu saya berpikir pendidikan itu nomor tujuh dan pengalaman adalah yang utama. Ternyata saya keliru. Pendidikan membentuk karakter dan memberikan fondasi yang terstruktur, sementara pengalaman membutuhkan waktu yang panjang,” ujar tokoh nasional yang akrab disapa OSO tersebut.
Ia menegaskan bahwa Universitas OSO tidak mengejar kuantitas, melainkan kualitas lulusan. Menghadirkan tokoh-tokoh seperti Rocky Gerung dan Mahfud MD sebagai pemantik diskusi akademik di kampus merupakan salah satu upaya untuk mengasah cara berpikir kritis mahasiswa.
“Saya tidak berpikir harus sebanyak-banyaknya. Universitas OSO harus membangun kualitas SDM Kalimantan Barat. Lebih baik sedikit, tetapi berkualitas,” tegasnya. (KAYONG INFORMASI)
Tinggalkan Balasan